Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A Navis
Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami"
Judul : Robohnya Surau Kami
Pengarang : A.A. Navis
Tahun : Cetakan ke empat belas, Januari
2008
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 142
ISBN : 978-979-403-046-2
Sinopsis :
Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk.
Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin
dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang
itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin.
Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang
paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai
pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu
berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok. Kehidupan orang ini agaknya monoton.
Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau,
beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak
ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain,
apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan. Suatu ketika
datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu,
keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo
Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa
yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia
memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan
hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala
kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha
mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa
bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua ini yang
dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji
Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai.
Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka.
Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala
perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih
jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan
pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang
berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak
begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang
mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja.
UNSUR
INTRINSIK :
1.
Tema
•
Keagamaan : berisi petuah untuk beribadah tanpa menginggalkan kewajiban untuk
bermasyarakat dan bekerja.
•
Kepemimpinan : berisi kisah kepala keluarga yang lalai dalam menjaga
keluarganya.
2.
Amanat
A.A.
Navis pengarang ini seperti ingin mengingatkan kita yang seringkali berpuas
diri dalam ibadah, tapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri. Kita
rajin shalat, mengaji dan kegiatan ritual keagamaan lainnya karena kita takut
masuk neraka. Kita menginginkan pahala dan keselamatan hanya untuk diri kita
sendiri. Kita melupakan kebutuhan orang lain. Karenanya kita tidak merasa
berdosa dan bersalah ketika mengambil hak orang lain, menyakiti perasaan sesama
atau bahkan melakukan ketidakjujuran dan kemaksiatan di muka bumi. Beliau ingin
mengajak kita menyeimbangkan antara hak dan kewajiban kita di mata Tuhan.
Keselarasan harus tercipta karena itu adalah nyawa mengenai ketentraman hidup.
3.
Latar
•
Latar Tempat : kota, dekat pasar, di surau, dan sebagainya.
•
Latar Waktu : Beberapa tahun yang lalu, pada suatu waktu.
•
Latar Sosial : menggambarkan keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan
sikapnya, kebiasaannya, cara hidup, dan bahasa.
4.
Alur (plot)
Alur
cerpen Robohnya Surau Kami adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan
peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin. Sedangkan
strukturnya berupa bagian awal, tengah, dan akhir. Adapun alur mundurnya mulai
muncul di akhir bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir.
5.
Penokohan
(a)
Tokoh Aku: berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain. Tokoh ini begitu
berperan karena sebar tau dalam cerpen ini.
(b)
Ajo Sidi: berwatak orang yang suka membual.
(c)
Kakek: berwatak orang yang egois dan lalai, mudah dipengaruhi dan mempercayai
orang lain dan lemah imannya.
(d)
Haji Soleh: berwatak orang yang terlalu mementingkan diri sendiri.
6.
Sudut Pandang
Di
dalam cerpen ini pengarang memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh
utama atau acuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam
cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita.
7.
Gaya bahasa
Di
dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan
dalam bidang keagamaan (Islam), seperti garin, Allah Subhanau Wataala,
Alhamdulillah, Astagfirullah, Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, dosa dan pahala,
Surga, Tuhan, beribadat menyembah-Mu, berdoa, menginsyafkan umat-Mu, hamba-Mu,
kitab-Mu, Malaikat, neraka, haji, Syekh, dan Surau serta fitrah Id, juga
Sedekah.
Selain
ini, pengarang pun menggunakan pula simbol dan majas. Simbol yang terdapat
dalam cerpen ini tampak jelas pula judulnya, yakni Robohnya Surau Kami.
Sedangkan
majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di
dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang.
Di
dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. Gaya bahasanya
sulit di pahami, gaya bahasanya menarik dan pemilihan katanya pun dapat
memperkaya kosa kata siswa dalam hal bidang keagaman.
•
UNSUR EKSTRINSIK :
Ø
Nilai Sosial:
Kita
harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan karena pada hakekatnya
kita adalah makhluk sosial.
Ø
Nilai Moral :
Kita
sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang
lain tetapi harus saling menghormati.
Ø
Nilai Agama :
Kita
harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang
oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.
Ø
Nilai Pendidikan :
Kita
tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha
dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.
Ø
Nilai Adat :
Kita
harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai- nilai dalam masyarakat.
Keunggulan
dan Kelemahan
Keunggulan
dari cerita robohnya surau kami terletak pada bagaimana A.A. Navis mengakhiri
cerita dengan kejadian yang tak terduga, lalu pada teknik penceritaan A.A.Navis
yang tidak biasa pada saat itu, tidak biasanya karena Navis menceritakan suatu
peristiwa yang terjadi di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog antara tokoh
manusia dengan Sang Maha Pencipta. Kelemahannya terletak pada gaya bahasa yang
terlalu tinggi, sehingga sulit untuk dibaca.
http://uny.ac.idhttp://library.uny.ac.id
http://journal.uny.id
Komentar
Posting Komentar