Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Jurnal Membaca : Resensi Kumpulan Cerpen "Perempuan yang Patah Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi" Karya Eka Kurniawan

Judul               : Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi Karya              : Eka Kurniawan Genre              : Cerpen Resensi            :             Bagi orang-orang yang telah biasa membaca karya milik Eka ini pastinya sudah tidak heran lagi dengan aksi “nyleneh” nya saat dia menuliskan kalimat demi kalimat dalam karyanya. Dalam kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen yang berjudul Gerimis yang Sederhana dengan alur penceritaan yang lambat dan memiliki latar belakang sejarah saat orde lama hendak runtuh (latar belakang ini juga sering diangkat olehnya saat menciptakan sebuah karya). Menceritakan tentang pertemuan Mei dan Effendy yang ditenga...

Jurnal Membaca : Resensi Naskah Drama "Sobrat" Karya Arthur S. Nalan

Judul                : Sobrat Karya              : Arthur S. Nalan Genre               : Drama Resensi             :             Sebelum membahas tentang isi dari drama ada baiknya kita menelaah siapa penciptanya dahulu. Drama sobrat diciptakan oleh Arthur S. Nalan, beliau lahir di Majalengka pada tanggal 21 Februari 1959. Menyelesaikan pendidikan sebagai sarjana muda di jurusan teater di ASTI (sekarang menjadi sekolah seni Indonesia), sarjana seni dari STSI Surakarta (1988) dan magister Humaniora dari UGM (1993) untuk bidang pengkajian seni pertunjukkan.             Sejak tahun 1984 ia kerap menulis naskah drama. Sudah bany...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Pamflet Cinta" Karya W. S Rendra

Judul                : Pamflet Cinta Karya               : W. S Rendra Resensi             :             Tema dari puisi tersebut adalah kerinduan. Latar belakang puisi ini menggambarkan kita tentang rindu yang begitu dalam pada sosok Rendra. Seperti bait yang berbunyi “aku ingin kamu tetapi kamu tidak ada”.             Gaya bahasa pada bait pertama adalah menggunakan majas personifikasi. Bait kedua menggunakan majas paralelisme. Bait ketiga, keempat, kelima, keenam mengandung majas personifikasi. Walaupun menggunakan majas personifikasi di bait ketujuh juga terdapat majas repetisi di baris pertama sampai ketiga. Sedangkan pada bait kedelapan dan kesembilan mengandung majas hiperbola dan...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Doa" Karya Chairil Anwar

Judul                : Doa Karya               : Chairil Anwar Resensi             :             Pada puisi yang berjudul “Doa” ini Chairil mengangkat sebuah tema ketuhanan, khususnya hubungan Tuhan dengan hambaNya. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan puisi Tuhanku / Dalam termangu / Aku masih menyebut namaMu. Latar belakang pembuatan puisi ini adalah diceritakan bahwa penyair tengah mengalami krisis iman, sehingga diksi yang digunakan pleh penyair dalam pmbuatan puisi yaitu menggambarkan perasaan yang ragu, bimbang, gundah, dan lemah.             Gaya bahasa yang digunakan pada puisi ini yaiut menggunakan majas metafora dan majas hiperbola. Majas metafora dapat terlihat pada bari yang ...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Tuhan Kita Begitu Dekat" Karya Abdul Hadi W.M

Judul                : Tuhan Kita Begitu Dekat Karya               : Abdul Hadi W, M Resensi             :             Pada puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” penyair mengangkat tema ketuhanan karena terdapat beberapa bait sang penyair mengatakan “Tuhan, Kita begitu dekat” sebanyak tiga kali pengulangan, hal ini menunjukkan bahwa antara penyair dan Tuhan telah terjalin komunikasi yang erat. Kita dapat merasakan dekat atau tidaknya dengan Tuhan adalah dengan selalu berbuat baik dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja, karena merasa dirinya selalu diawasi oleh Tuhan. Sikap penyair dalam puisi ini adalah penyair setuju bahwa jalan kerohanian menuju kembali kepada Tuhan berangkat dari ajaran tauhid islam. Sang penyair merasa deekat dengan Tuhan ka...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Kepada Peminta-minta" Karya Chairil Anwar

Judul                : Kepada Peminta-minta Karya               : Chairil Anwar Resensi             :             Latar belakang puisi yang berjudul “Kepada Peminta-minta” Chairil menggambarkan bahwa ia merasa sangat kecewa dan marah kepada para pengemis dan ia ingin si pengemis mencari nafkah dengan cara yang lebih baik, sehingga penyair menggambarkan perasaannya melalui puisi ini. Tema puisi ini adalah keprihatinan dan ketidak setujuan. Disini tokoh aku menunjukkan ketidaksukaannya melihat pengemis mencari nafkah dengan cara meminta-minta, walaupun kehidupan sangat rumit namun tokoh aku berharap pengemis dapat mencari nafkah dengan cara yang baik. Perasaan yang dapat dirasakan yaitu penyair ingin pengemis tidak meminta-minta lafi dan mencari peke...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Sajak Putih" Karya Chairil Anwar

Judul                : Sajak Putih Karya              : Chairil Anwar Resensi             :             Sajak putih adalah sebuah puisi karya Chairil Anwar yang sangat sarat akan nilai romantika. Ketulusan, kejujuran, dan keikhlasan seorang pujangga dalam romantika cinta tersirat jelas disini. Puisi ini juga menggambarkan ungkapan tulus perasaan penulis kepada kekasih yang sangat dipujanya pada pandangan pertama. Puisi ini juga merupakan salah satu puisi favorit saya karena penyajian bahasanya begitu memikat dan menarik untuk dibaca.             Tema yang diangkat pada puisi yang berjudul “Sajak Putih” adalah tema percintaan. Dalam puisi ini mengisahkan tentang seorang gadis yang sangat ...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Surat Kepada Bunda" Karya W. S Rendra

Judul                : Surat Kepada Bunda Karya              : W. S Rendra Resensi             :             Puisi yang ditulis Rendra dengan judul “Surat Kepada Bunda” ini mengangkat tema restu dari seorang ibu. Ia mengisahkan kehidupan seorang anak laki-laki yang telah menemukan jodohnya dan meminta izin kepaada ibunya untuk menikahi kekasihnya itu serta agar ibunya juga dapat menyayangi menantunya seperti ibunya saat menyayangi anaknya sendiri.             Di dalam puisi yang ditulis Rendra lebih banyak menggunakan kata-kata yang sudah familier dan mudah dipahami oleh pembaca. Selain itu diksi yang digunakan Rendra bermakna konotatif . misalnya saat ia melukiskan kehidupannya dahulu d...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Makna Sebuah Titipan" Karya W. S Rendra

Judul                : Makna Sebuah Titipan Karya               : W. S Rendra Resensi             :             Willibrordus Surendra Broto Rendra atau W. S Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai sastrawan yang mendapat julukan “si Burung Merak” dari sahabatnya. Kabarnya W. S berubah menjadi Wahyu Sulaiman setelah dirinya menjadi seorang muallaf. Rendra sendiri adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya merupakan seorang dramawan tradisional dan guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di sekolah Katolik dikotanya, sedangkan ibunya adalah seorang penari serimpi di keraton Surakarta. Mulanya Rendra memeluk agama Kristen tetapi kemudian menjadi m...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Aku" Karya W. S Rendra

Judul                : Aku Karya              : Chairil Anwar Resensi             :             Chairil Anwar mulai dikenal orang-orang karena berkat puisi-puisi yang ditulisnya. Yang paling terkenal yaitu yang berjudul “Semangat” yang kemudian berubah judul menjadi “Aku”. Puisi tersebut ia tulis pada bulan Maret tahun 1943 dan menyita banyak perhatian masyarakat dalam dunia sastra. Dengan bahasa yang disampaikan secara lugas, Chairil sangat berani memunculkan karya yang belum pernah ada sebelumnya. Sebenarnya, puisi tersebut mendapat banyak kecaman dari publik karena dianggap tidak sesuai sebagaimana puisi-puisi lain pada zaman itu.             Puisi yang berjudul “Aku” ini ditulis pada bula...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Gugur" Karya W. S Rendra

Judul                : Gugur Karya               : W. S Rendra Resensi             :             Pada puisi yang ditulis Rendra kali ini adalah berjudul Gugur. Tema yang diangkat pada puisi ini adalah perjuangan, dimana tentang perjuangan membela kemerdekaan di tanah Ambarawa. Dimana seseorang berjuang melawan penjajah hingga tumpah darah hanya untuk memperjuangkan tanah Ambarawa. Karena itu hanya salah satu warisan leluhur yang subur maka dari itu harus diperjuangkan dan dilestarikan untuk generasi yang akan datang. Ketika membaca puisi ini begitu haru karena membayangkan seorang pejuang yang sedang dalam keadaan sekarat tetapi ia benar-benar sangat tangguh meskipun sekujur tubuhnya terdapat banyak luka, ia juga pantang untuk dibopong menuju kota ...

Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Pada Suatu Hari Nanti" Karya Sapardi Djoko Damono

Judul                : Pada Suatu Hari Nanti Karya               : Sapardi Djoko Damono Resensi             :             Puisi ini ditulis Sapardi pada tahun 1989 ketika Indonesia sedang di masa orde baru yang dimana paradigma perjuangan untuk kemerdekaan sudah mulai menghilang dan Sapardi sejak kecil telah mnyaksikan dampak dari peperangan ditambah dengan dirinya pindah ke desa Komplang yang sepi membuatnya terinspirasi mengenai segala sesuatu yang dia sukai. Pada dasarnya tulisan ini mengandung harapan dan mimpi-mimpinya akan karya yang telah dia hasilkan.             Secara garis besar puisi ini berisi tentang harapan-harapan dan keyakinan dari seorang penulis agar kenangan akan dirinya d...

Jurnal Membaca : Resensi Novel "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2" Karya Pramoedya Ananta Toer

Judul                : Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2 Penulis              : Pramoedya Ananta Toer Penerbit            : Hasta Mitra Resensi             :             Sebelum membahas isi buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2 ada baiknya kita mengenali dulu siapa penulisnya, karena pada blog resensi sebelumnya biografi Pram belum terbahas sama sekali. Pramoedya Ananta Toer terkenal sebagai pengarang novel pada tahun 1940an dengan novelnya antara lain “Keluarga Gerilya” dan “Perburuan”. Dia lahir di Blora, Jawa Tengah pada tanggal 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 30 April 2006. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pend...

Jurnal Membaca : Resensi Novel "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1" Karya Pramoedya Ananta Toer

Judul                : Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1 Penulis              : Pramoedya Ananta Toer Penerbit            : Hasta Mitra Halaman           : 426 Halaman Resensi             :             Nyanyi Sunyi Seorang Bisu sebenarnya adalah berisi catatan-catatan Pram selama dirinya berada di Pulau Buru. Buku ini bukan fiksi seperti mahakaryanya yang lain, tetapi buku ini berisi tentangcurahan hatinya yang ingin dikeluarkan. Pram menulis bukan hanya tentang keadaan di Pulau Buru, tentang mereka-mereka yang bernasib sama dengan dirinya, tetapi juga menulis sebuah surat untuk anak-anaknya.          ...

Jurnal Membaca : Resensi Novel "Rahvayana 2 : Ada yang Tiada" Karya Sujiwo Tejo

Judul                : Rahvayana 2 : Ada yang Tiada Penulis              : Sujiwo Tejo Penerbit            : PT Bentang Pustaka Halaman           : 296 Halaman Resensi             :             Seperti pada blog sebelumnya, kali ini saya hendak meresensi novel yang merupakan sekuel dari novel Rahvayana : Aku Lala Padamu yaitu novel Rahvayana : Ada yang Tiada . Sekuel ini juga ditulis oleh Sujiwo Tejo. Seperti pada blog sebelumnya, sebelum membahas isi novel ada baiknya kita mengenal biografi Sujiwo Tejo sang penulis sekuel yang berjudul Rahvayana : Ada yang Tiada. Agus Hadi Sudjiwo lahir di Jember, Jawa Timur pada tanggal 31 Agustus 1962. Beliau...

Jurnal Membaca : Resensi Novel "Rahvayana : Aku Lala Padamu" Karya Sujiwo Tejo

Judul                : Rahvayana 1 : Aku Lala Padamu Penulis             : Sujiwo Tejo Penerbit            : PT Bentang Pustaka Halaman           : 248 Halaman Resensi             :             Sebelum membahas isi buku yang berjudul Rahvayana : Aku Lala Padamu ini ada baiknya kita mengenali dulu siapa penulisnya. Agus Hadi Sudjiwo lahir di Jember, Jawa Timur pada tanggal 31 Agustus 1962. Beliau lebih dikenal dengan panggilan Sujiwo Tejo, ia adalah seorang budayawan di Indonesia. Ia pernah menduduki bangku perkuliahan di ITB pada prodi Teknik Sipil, tetapi ia kemudian mundur untuk meneruskan karier di dunia seni yang lebih diminatinya. Sebelum berkiprah...

Jurnal Membaca : Resensi Novel "AKU" Karya Sjuman Djaya

Judul                            : AKU (Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar) Penulis                          : Sjuman Djaya Jumlah halaman           : 168 halaman Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama Resensi                         :             Novel ini bukanlah buku biografi Chairil Anwar melainkan skenario adegan-adegan film yang dibuat oleh Sjuman Djaya yang is...

Jurnal Membaca : Resensi Novel "Ronggeng Dukuh Paruk" Karya Ahmad Tohari

Judul                : Ronggeng Dukuh Paruk Penulis            : Ahmad Tohari Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama Halaman           : 408 halaman Resensi             :             Ahmad Tohari adalah salah satu sastrawan Indonesia yang terkenal bersama novel triloginya yang ditulis pada tahun 1981 dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk. Ahmad Tohari lahir didaerah Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 13 Juni 1948. Ahmad Tohari menamatkan studi SMA nya di kota Purwokerto kemudian dia melanjutkan di perguruan tinggi Universitas Jenderal Soedirman.             Novel dengan judul Ro...

Jurnal Membaca : Resensi Novel "Madilog" Karya Tan Malaka

Judul                : Madilog Penulis              : Tan Malaka Resensi             : Sebelum masuk ke dalam pembahasan isi novel Madilog, ada baikya kita mengenal siapa Tan Malaka atau penulis dari novel Madilog ini. Tan Malaka adalah sosok laki laki kelahiran Suliki, Sumatra Barat pada tanggal 02 Juni 1897 dengan nama asli Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Anak dari pasangan Rasad Caniago dan Sinah Sinabur ini merupakan tamatan Kweekschool Bukit Tinggi pada umur 16 tahun di tahun 1913, dan dilanjutkan ke Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda. Tan Malaka menuliskan  madilog  untuk merevolusi paradigma tersebut, Madilog adalah sebuah akronim dari  materialisme ,  dialektika , dan logika yang menjadi titik pokoknya. Materialisme, diambil dari pemikiran seorang Karl Marx dan saha...

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Bangkak" Karya A. A Navis

Judul                : Si Bangkak Pengarang        : A.A. Navis Sinopsis            : Cerpen “Si Bangkak” diawali dengan cerita seorang Mayor bernama Udin yang kehilangan istri disebabkan oleh tembakan si Bangkak ketika membersihkan pistol berpeluru. Pada akhir paragraf cerita semuanya tersibak. Kepala Desa mengatakan si Bangkak menembak istri Mayor bukan karena kesengajaan, tetapi memang ia sengaja menekan pelatuk. Setelah saya baca secara runtut ceritanya, Mayor Udin terlalu mempercayai Bangkak untuk memijat istrinya. Awalnya hanya kepala, namun kemudian berahli ke punggung. “Bagaimanapun pandirnya Si Bangkak, dia kan seorang laki-laki. Bukan anak kecil ingusan atau gaek jompo,” kata Kepala Desa. Saya suka dengan cerpen ini. Cerpen ini mengajari kita untuk berhati-hati dalam menjalani hidup. Dan tidak menganggap remeh seseora...

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Montok" Karya A. A Navis

Judul                : Si Montok Pengarang        : A.A. Navis Sinopsis            : Si montok menceritakan seorang janda beranak satu yang ditaksir tiga prajurit yang menginap di rumah ayah dan ibu Si Montok. Dari ketiga prajurit itu yang sedikit berhasil mendapatkan hati Si Montok adalah Dali. Ketika 3 prajurit sedang mengambil air dan membantu Si Montok membawa beban air perian dan kain cucian. Tentunya si Dali cerdik dan membawa beban yang paling berat yaitu Amir, anaknya si Montok. “Kalau Amir maukan Uda jadi ayahnya, tergantung pada udalah itu,” ucap Si Montok. “Katakan padanya ini zaman perang, jangan sampai ia dua kali kehilangan Ayah,” ucap Dali. Si Dali menyesal pada ucapannya sendiri, sebab beberapa hari kemudian Si Montok dilamar oleh Kapten. Kemudian mereka menikah. Sekitar masa setahun sehabis perang dia menyukuri...

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Topi Helm" Karya A. A Navis

Judul                : Topi Helm Pengarang        : A.A. Navis Sinopsis            : Cerpen ini menceritakan Tuan O.M. (Gunarso) yang dijuluki Si Topi Helm. Ia adalah opseter mesin yang memiliki wibawa. Suatu saat ketika ia dipindahkan ke Bandung, ia memberikan topi helm ke Pak Kari, sehingga Pak Kari mendapat julukan “Si Gunarso”. Pak Kari bangga dengan panggilan itu. Di cerpen ini digambarkan bahwa Pak Kari terlalu berlebihan mencintai topi helm yang sekarang menjadi milikinya. Hingga ia membuat kekacauan dan kecemasan. Sehingga topi helmnya itu dibakar oleh masinis. Ketika hampir di akhir cerita, terkuaklah kenapa Pak Kari terlalu obsesi terhadap topi helm itu. Hal tersebut karena Pak Kari yang jatuh cinta kepada istri Gunarso dan menganggap bahwa topi helm pemberian Gunarso sebagai lambang yang bermakna abadi untuk hubungan...

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Zaim Penyair Yang ke Istana" Karya A. A Navis

Judul                : Zaim Penyair yang ke Istana Pengarang        : A.A. Navis Sinopsis            : Cerpen ini menceritakan seorang Zaim penyair asal Madura yang mengikuti kongres di Jakarta. Di penginapan ia sekamar dengan Pak Dali. Ia ingin sekali menghadiri pembukaan kongres di Istana Presiden. Tetapi ia tak punya jas dan dasi. Zaim pun meminjam uang dengan Pak Dali. Sebenarnya Pak Dali tak punya jas, tetapi ia tak begitu berambisi seperti Zaim. Pak Dali meminjamkan uangnya. Ternyata banyak seniman yang tidak bisa mengikuti acara itu karena tidak punya jas, sehingga dibolehkan memakai batik. Pak Dali dan yang lain pun bisa ke istana. Sedangkan di Istana ia tidak melihat si Zaim.Ketika hampir tengah malam, Zaim muncul dari pintu kamar hotel dengan wajah ceria ia berterimakasih kepada Pak Dali arena bantuannya ia bisa bertemu...

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Datang dan Perginya" karya A.A Navis

Judul                : Datang dan Perginya Pengarang        : A.A. Navis Sinopsis            : Cerpen Datang dan Perginya adalah salah satu cerpen yang dibukukan di dalam buku kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami . cerpen ini bercerita tentang Ayah Masri sebagai tokoh utama dalam cerpen ini ditinggal mati oleh istrinya ketika Masri berumur tiga tahun. Kemudian ayah Masri pun menikah lagi. Tapi perkawinan itu malah merusakkan hatinya yang selalu mengenang kisah hidupnya saat bersama ibu Masri. Masri menikah dengan Armi, anak dari Iyah seorang perempuan yang pernah menjadi istri dan kemudian diusir oleh Ayah Masri. Sekarang, Iyah ternyata telah menjadi mertua Masri. Masri dan Arni ternyata saudara sekandung. Ayah Masri sekarang telah menjadi orang yang taat kepada Allah dan takut akan dosa-dosa yang telah ia perbuat. Ketika menget...