Jurnal Membaca : Resensi Novel "Madilog" Karya Tan Malaka
Judul : Madilog
Penulis : Tan Malaka
Resensi :
Sebelum masuk ke dalam
pembahasan isi novel Madilog, ada baikya kita mengenal siapa Tan Malaka atau penulis
dari novel Madilog ini. Tan Malaka
adalah sosok laki laki kelahiran Suliki, Sumatra Barat pada tanggal 02 Juni
1897 dengan nama asli Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Anak dari pasangan Rasad
Caniago dan Sinah Sinabur ini merupakan tamatan Kweekschool Bukit Tinggi pada
umur 16 tahun di tahun 1913, dan dilanjutkan ke Rijks Kweekschool di Haarlem,
Belanda.
Tan Malaka
menuliskan madilog untuk merevolusi paradigma tersebut,
Madilog adalah sebuah akronim dari materialisme, dialektika, dan logika yang
menjadi titik pokoknya. Materialisme, diambil dari pemikiran seorang Karl Marx
dan sahabatnya Friedrich Englas. Karl Marx sendiri terkenal sebagai bapak
dialektis materialism dan surplus value, yakni nilai-nilai lebih yang
dihasilkan oleh buruh namun yang menjadi penguasa nya adalah kaum
kapitalis. Dialektika, yang berdasarkan pikiran yang pada hegalisme, tidak
ada suatu kebenaran yang absolut. Dalam hal ini Tan Malaka memberikan contoh
waktu, dimana seiring berjalan nya waktu akan selalu ada
pertentangan/pergerakan yang akan membawa dampak/perubahan besar. Logika,
berarti pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan
dalam bahasa atau singkatnya tata cara berpikir, logika menjadi penentu dalam
keadaan dua pilihan, ya atau tidak, mati atau hidup, tinggi atau pendek,dsb.
Tan Malaka sendiri memberitahukan atau mengenalkan prinsip logika dasar seperti
conversion, obversion, dan sylogism.
Dalam buku ini juga
saya dapat melihat bahwa Tan Malaka selalu mengatakan secara berulang-ulang
"membaca" disini saya melihat bahwa Tan malaka ingin si pembaca
mengetahui penting nya ilmu pengetahuan. Hal ini juga erat kaitanya dengan
kondisi rakyat Indonesia sendiri yang masih menganut feodalisme, bermentalkan
budak, dan mengkultuskan tuyul, dan karena itu masyarakat semakin tertinggal
dan menjadi tabu terhadal hal-hal yang berbau pengetahuan, tetapi kita selalu
menyuarakan agar kita lepas dari jeratan kelaparan dan kemiskinan tapi tidak
ingin berubah menjadi lebih baik atau bisa juga saya sebut tidak menjadi kaum
proletar yang berpengetahuan. Sehingga buku ini sangat cocok untuk dibaca.
Komentar
Posting Komentar