Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Aku" Karya W. S Rendra


Judul               : Aku
Karya              : Chairil Anwar
Resensi            :
            Chairil Anwar mulai dikenal orang-orang karena berkat puisi-puisi yang ditulisnya. Yang paling terkenal yaitu yang berjudul “Semangat” yang kemudian berubah judul menjadi “Aku”. Puisi tersebut ia tulis pada bulan Maret tahun 1943 dan menyita banyak perhatian masyarakat dalam dunia sastra. Dengan bahasa yang disampaikan secara lugas, Chairil sangat berani memunculkan karya yang belum pernah ada sebelumnya. Sebenarnya, puisi tersebut mendapat banyak kecaman dari publik karena dianggap tidak sesuai sebagaimana puisi-puisi lain pada zaman itu.
            Puisi yang berjudul “Aku” ini ditulis pada bulan Maret tahun 1943 oleh Chairil Anwar. Puisi ini mengandung beberapa makna, yang pertama yaitu sebagai wujud kesetiaan dan keteguhan hati atas pilihan kebenaran yang diyakininya. Yang kedua, keberanaian dalam berjuang meskipun banyak resiko yang akan dihadapinya. Yang ketiga yaitu semangat yang ada pada diri yag tak akan pernah padam. Tema yang diangkat pada puisi ini yaitu menggambarkan kegigihan dan semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan semangat hidup seseorang yang ingin selalu memperjuangkan haknya tanpa merugikan orang lain.
            Puisi ini menggunakan majas hiperbola dan majas metafora. Pada majas hiperbola terdapat pada kalimat “Aku tetap meradang menerjang”. Sedangkan pada majas metafora terdapat pada kalimat “Aku ini binatang jalang”. Suasana puisi yang disajikan oleh Rendra yaitu penuh perjuangan, optimis, dan kekuatan emosi yang cukup tinggi tetapi ada beberapa suasana yang berubah menjadi sedih karena dalam puisi tersebut menceritakan ada beberapa orang yang tak menganggap tentang perjuangan si tokoh aku.
            Amanat yang terkandung dalam puisi terdiri dari lebih satu amanat diantaranya yaitu yang pertama adalah sebagai seorang manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan menghadang. Kedua, manusia harus berani mengakui keburukan dirinya tidak hanya menonjolkan kelebihannya saja. Ketiga, manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya dapat hidup selama-lamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Montok" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Anak Kebanggaan" karya A. A Navis