Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Sajak Putih" Karya Chairil Anwar


Judul               : Sajak Putih
Karya              : Chairil Anwar
Resensi            :
            Sajak putih adalah sebuah puisi karya Chairil Anwar yang sangat sarat akan nilai romantika. Ketulusan, kejujuran, dan keikhlasan seorang pujangga dalam romantika cinta tersirat jelas disini. Puisi ini juga menggambarkan ungkapan tulus perasaan penulis kepada kekasih yang sangat dipujanya pada pandangan pertama. Puisi ini juga merupakan salah satu puisi favorit saya karena penyajian bahasanya begitu memikat dan menarik untuk dibaca.
            Tema yang diangkat pada puisi yang berjudul “Sajak Putih” adalah tema percintaan. Dalam puisi ini mengisahkan tentang seorang gadis yang sangat cantik mempunyai cinta yang sangat tulus dan dalam terhadap seorang pria yang dapat membuat hatinya tersebut merasa terharu dan tertarik terhadapnya. Tetapi kdua insan tersebut sama-sama belum siap untuk saling mengutarakan perasaannya masing-masing, mereka hanya diam tanpa ada sepatah kata yang diucapkan dan hanya bisa berbicara didalam hatinya masing-masing. Kedua insan tersebut berjanji bahwa sampai kapanpun mereka tak akan terpisahkan. Perasaan yang ditekankan pada puisi ini adalah rasa bahagia karena kedua insan yang tadinya tidak memiliki keberanian untuk saing mengutarakan perasaannya karena cinta yang dimiliki oleh kedua isan tersebut sangat tulus dan suci.
            Majas yang digunakan pada puisi ini yaitu dimulai dengan majas metafora yang bersifat membandingkan sesuatu secara langsung, terdapat pada baris ketiga bait pertama yang berbunyi “Dihitam matamu kembang mawar dan melati”. Majas repetisi terdapat pada baris kesembilan bait ketiga yaitu terjadi pengulangan kata “hidup dari hidupku” yang menggambarkan bahwa si aku merasa hidupnya penuh dengan kemungkinan. Pada baris pertama bait pertama yaitu berbunyi “Tari warna pelangi” merupakan bahasa kiasan personfikasi yang menggambarkan benda mati tapi seolah hidup. Bait kedua baris pertama “sepi menyanyi” adalah menggunakan majas personifikasi. Majas anatonomasia terdapat pada bait kesatu baris kedua yaitu “Kau depanku bertudung sutra senja”.
            Amanat yang disampaikan pada puisi ini adalah bahwa jika kita mencintai seseorang harus berani mengutarakan perasaannya masing-masing, menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita, dan berusaha untuk selalu mencintai dan ada di sisinya sampai maut memisahkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Montok" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Anak Kebanggaan" karya A. A Navis