Jurnal Membaca : Resensi Novel "Rahvayana : Aku Lala Padamu" Karya Sujiwo Tejo



Judul               : Rahvayana 1 : Aku Lala Padamu
Penulis             : Sujiwo Tejo
Penerbit           : PT Bentang Pustaka
Halaman          : 248 Halaman
Resensi            :
            Sebelum membahas isi buku yang berjudul Rahvayana : Aku Lala Padamu ini ada baiknya kita mengenali dulu siapa penulisnya. Agus Hadi Sudjiwo lahir di Jember, Jawa Timur pada tanggal 31 Agustus 1962. Beliau lebih dikenal dengan panggilan Sujiwo Tejo, ia adalah seorang budayawan di Indonesia. Ia pernah menduduki bangku perkuliahan di ITB pada prodi Teknik Sipil, tetapi ia kemudian mundur untuk meneruskan karier di dunia seni yang lebih diminatinya. Sebelum berkiprah menjadi pemusik, pelukis, penulis dan dalang beliau sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun. Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar pakem seperti Rahwana yang dibuatnya menjadi baik, Pandawa yang dibuatnya tidak selalu benar, dan masih banyak lainnya.
            Saat pertama kali melihat sampul buku dengan judul perpaduan antara Rahwana dengan Ramayana, dapat diduga bahwa Rahwana akan mendapat semacam pembelaan di cerita yang dimuat dalam buku Rahvayana ini. Memang dalam berbagai versi yang tersebar secara umum, Rahwana slalu dikisahkan sangat antagonis dan tidak punya hati, tetapi Rahwana yang diciptakan oleh Sujiwo Tejo ini tampil sebagai sesosok yang lebih apa adanya dan seorang Rahwana dibebaskan dari pakem kewayangannya.
            Dalam buku Rahvayana ini berisikan kumpulan surat-surat bernada mesra dan tentunya ditujukan kepada Sinta. Pertemuan antara Rahwana dan Sinta sejak pertama kalinya di Borobudur itu yang  menjadi awal dari segala cerita dalam Rahvayana ini. Karena pembebasan pakem kewayangan terhadap semua tokoh yang ada menjadikan penfsiran bahwa Rahwana sebagai tokoh yang antagonis sudah pasti tidak menjadi hal yang benar. Rahwana sendiri diceritakan bahwa dirinya sebenarnya memiliki cinta yang dahsyat, tulus, dan tidak pernah memaksa Sinta sekalipun. Rahwana juga tidak pernah menyentuh Sinta meskipun sebenarnya hal tersebut cukup mudah dilakukan oleh Rahwana bila ia menginginkannya. Hanya saja memang Rahwana bersalah akan rasa sabar yang ada pada dirinya dalam menggapai cintanya itu.
            Dikisah lain Rama selalu dikisahkan sebagai pihak yang tidak menerima kesucian Sinta selepas pulang dari Argasoka. Padahal dalam penantian panjangnya selama 12 tahun di Argasoka, Sinta berhasil menjaga kesuciannya. Namun, Rama justru sama sekali tidak percaya, hal ini dapat membuat pembaca merasa ragu akan ketulusan cintanya kepada Sinta, rasanya sangat jelas siapa yang memiliki cinta yang tulus, murni, dan sejati kepada Sinta.
            Novel ini dikemas dengan begitu apik oleh Sujiwo Tejo, saat saya membaca saya benar-benar seperti ada dipihak Rahwana bukan Rama. Pepraduan anatara budaya tradisional berupa wayang dan dikemas secara modern oleh penulis tidak menjadikan isi novel kehilangan esensi nilai seninya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Montok" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Anak Kebanggaan" karya A. A Navis