Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Datang dan Perginya" karya A.A Navis


Judul               : Datang dan Perginya
Pengarang       : A.A. Navis
Sinopsis           :

Cerpen Datang dan Perginya adalah salah satu cerpen yang dibukukan di dalam buku kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami . cerpen ini bercerita tentang Ayah Masri sebagai tokoh utama dalam cerpen ini ditinggal mati oleh istrinya ketika Masri berumur tiga tahun. Kemudian ayah Masri pun menikah lagi. Tapi perkawinan itu malah merusakkan hatinya yang selalu mengenang kisah hidupnya saat bersama ibu Masri. Masri menikah dengan Armi, anak dari Iyah seorang perempuan yang pernah menjadi istri dan kemudian diusir oleh Ayah Masri. Sekarang, Iyah ternyata telah menjadi mertua Masri.
Masri dan Arni ternyata saudara sekandung. Ayah Masri sekarang telah menjadi orang yang taat kepada Allah dan takut akan dosa-dosa yang telah ia perbuat. Ketika mengetahui hal tersebut, Ayah Masri akan memberitahukan hal itu kepada Masri dan Arni, namun ia ditantang oleh Iyah.
Maksud dan latar belakang dibuatnya cerpen karya AA Navis ini adalah kebingungan untuk mengutamakan nilai kemanusiaan atau nilai agama. Yang pada akhirnya seorang ayah lebih memilih perasaaan kemanusiannya walaupun itu bertentangan dengan keimanan kepada tuhannya . Seorang ayah dan suami yang mengalami hidup penuh dengan pertengkaran dan tidak pernah mengalami kebahagian dalam rumah tangga walaupun ia sudah menikah berkali-kali. Kemudian ia pergi menyendiri untuk mendapatkan hidayah dari Tuhan. Namun pada akhirnya ia dihadapi oleh situasi yang sangat sulit, sehingga ia dikalahkan oleh rasa kemanusiaanya yang bertentangan dengan agama dan kebenaran yang ia percayai selama ini.
Betapa bejat moral seorang tokoh ayah dalam cerpen “Datangnya Dan Perginya” membiarkan sebuah kehidupan menjadi satu keluarga dalam ikatan pernikahan yang dilandasi oleh perkawinan sedarah. Di sini ada persoalan kemanusiaan yang diangkat. Jadi AA Navis tidak menginginkan penulisan cerpen itu selalu berbicara tentang percintaan pada umumnya. Tapi walau demikian, penggambaran watak yang ekstrim justru datang dari Iyah, mantan istrinya yang rela menanggung beban dosa seperti masalah yang dihadapi sekarang. Ia beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat. Kalau masalah yang menyangkut tentang dunia harus diselesaikan di dunia. Ini adalah tindakan yang mengenyampingkan nilai-nilai agama. Dan sepertinya nilai manusia sangat dijunjung tinggi dari pada nilai agama. Seperti membeli sebuah kebahagian dengan dosa yang sangat besar.
Sesungguhnya melalui cerpen berjudul Datang dan Perginya AA Navis ingin mengatakan kepada kita bahwa tidak selamanya orang yang sangat patuh terhadap agamanya akan selalu menjalankan apa ia yakini dalam agamanya. Dalam kondisi mendesak, bisa saja nilai kemanusiaan yang lebih diutamakan daripada nilai agama. Itulah salah satu contoh perbuatan yang mengandalkan kebahagiaan walau berakibat dosa besar karena lebih mementingkan urusan dunia daripada urusan akhirat. Sehingga cerpen ini sangat layak untuk dibaca karena menyajikan pesan kepada para pembaca agar tidak mengesampingkan  nilai agama selama dirinya masih hidup di dunia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Montok" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Anak Kebanggaan" karya A. A Navis