Jurnal Membaca : Resensi Novel "Ronggeng Dukuh Paruk" Karya Ahmad Tohari
Judul :
Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis
: Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 408 halaman
Resensi :
Ahmad Tohari adalah salah satu
sastrawan Indonesia yang terkenal bersama novel triloginya yang ditulis pada
tahun 1981 dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk. Ahmad Tohari lahir didaerah
Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 13 Juni 1948. Ahmad
Tohari menamatkan studi SMA nya di kota Purwokerto kemudian dia melanjutkan di
perguruan tinggi Universitas Jenderal Soedirman.
Novel dengan judul Ronggeng Dukuh
Paruk ini mengambil latar tahun 1965 an. Novel ini menceritakan tentang kehidupan
dukuh paruk. Dukuh paruk sendiri adalah sebuah dukuh yang kecil. Srintil merupakan
seorang gadis kecil yang berumur sebelas tahun yang memiliki masa lalu yang
begitu kelam, tetapi Srintil memiliki suatu kelebihan yang tak jarang dimiliki
oleh orang-orang yaitu menari selayaknya ronggeng. Suatu ketika ada anak laki-laki
yang sedang mencabut sebatang singkong di tanah kapur ereka bernama Rasus,
Warta, dan Dasun. Seketika mereka melihat Srintil yang sedang menari sambil
mendendangkan beberapa lagu ronggeng lalu mereka pun menghampiri dan ikut
menari bersama Srintil.
Srintil tinggal bersama kakeknya
yang bernama Sakarya. Sakarya benar-benar sangat menyayangi Srintil apalagi
saat kedua orang tuanya meninggal, Sakarya lah yang menggantikan peran orang
tua Srintil. Suatu hari Sakarya mengikuti gerak-gerik Srintil ketika menari,
sungguh sangat bangga ketika melihat Srintil menari, dia pun berpikiran bahwa
Srintil telah dirasuki oleh indang ronggeng. Lalu keesokan harinya Sakarya
pergi menemui Kartareja seorang dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Beberapa hari
kemudian Sakarya dan Kartareja selalu mengintip Srintil ketika menari di bawah
pohon nangka. Sakarya pun mneyerahkan Srintil ke Kartareja agar si Srintil
dapat dijadikan calon ronggeng. Untuk menjadi seorang ronggeng yang sah, ada
sejumlah upacara adat yang harus dilakukan oleh calon ronggeng. Sejumlah upacara
adat tersebut juga harus diakhiri dengan malam bukak kelambu. Malam bukak
kelambu dibuka untuk umum dengan berbagai syarat yang sudah dibuat oleh dukun
ronggeng. Syarat tersebut harus dipenuhi oleh seorang laki-laki yang ingin
merasakan malam bukak kelambu bersama Srintil. Rasus merupakan orang yang
pertama kali merasakan keperawanan Srintil. Hal itu sebenarnya bukan kemauan
Rasus sendiri tetapi Srintil lah yang memaksa secara terus-menerus. Setelah beberapa
saat melakukan itu, akhirnya giliran laki-laki lain lah yang telah membawa
berbagai persyaratan itu mulai mekakukan malam bukak kelambu dengan Srintil. Setelah
berbagai upacara adata dan malam bukak kelambu selesai dilakukan, maka Srintil
sudah dinobatkan menjadi seorang ronggeng yang sah. Setelah mengetahui hal itu Rasus
yang pertama kali merasakan keperawanan Srintil pergi meninggalkan Dukuh Paruk.
Rasus tidak tahan melihat Srintil yang selama ini menjad bayang-bayang sosok
emaknya bertayub dengan laki-laki yang tidak sedikit jumlahnya. Maka Rasus pun
pergi meninggalkan Dukuh Paruk untuk melupakan Srintil ke sebuah markas dan membantu
pekerjaan tentara. Setelah beberapa lama kemudian ia diangkat menjadi seorang
tentara.
Menjelang akhir tahun 1965 di Dukuh
Paruk terjadi suatu kegegeran politik. Malapetaka datang melanda padukuhan itu.
Suatu massa yang datang entah dari mana dan tidak pernah dimengerti sebelumnya
di padukuhan suatu ketika ratusan penonton mabuk selepas Srintil mengisi acara
kesenian. Mereka membabad padi entah milik siapa. Hal ini menjadikan malam itu
sangat rusuh karena para pemilik padi
datang untuk memepertahankan padi mereka. Tidak hanya itu, Srintil, kakek dan
neneknya, serta dukun ronggeng dan para penbauh calung pun ditangkap dan dibawa
ke penjara. Setelah ekian lama dipenjara mereka semua akhirnya dikeluarkan dari
penjara. Setelah dikeluarkan dari penjara Srintil berniat mengubah citra dirinya
dan berhenti meronggeng. Bahkan Srintil mengasuh anak yang diberi nama Goder. Selain
itu srintil juga mulai berharap ketika seorang laki-laki Bajus muncul dan
memberi perhatian kepadanya. Namun harapan itu muncul tidak terlalu lama, Srintil
kembali terpuruk karena Bajus mengatakan bahwa semua perhatian yang diberikan
kepadanya hanya sebatas teman. Srintil kembali merasakan kepedihan yang sangat
dalam. Lama-lama dia pu kehilangan akal budinya. Wajahnya pucat, matanya
kosong, dan mulutnya melongo. Wanita yang dulu menjadi pujaan masyarakat Dukuh Paruk
kini telah kehilangan akal budinya. Bahkan dia sering bergumam sendiri dan
tertawa tebahak-bahak sendiri di kamar. Sejak saat itu dia hanya mendapat
perhatian dari kakek, nenek dan Rasus. Rasus pun masih bertahan merawatnya dan
pergi membawanya ke rumah sakit tentara.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk ini kemudian
diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari. Menurut sutradara di beberapa
bagian lebih berani menggambarkan apa yang ia sendiri tidak berani menggambarkannya.
Ia pun ikut larut dalam emosi film ini. Secara kesuluruhan menurut saya buku
ini sangat cocok untuk dibaca karena menyajikan tentang kentalnya suatu budaya
dengan berbagai adatnya, sehingga dapat membawa para pembaca seolah-olah juga
sedang terrbawa dalam ceritanya.
Komentar
Posting Komentar