Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Makna Sebuah Titipan" Karya W. S Rendra


Judul               : Makna Sebuah Titipan
Karya              : W. S Rendra
Resensi            :
            Willibrordus Surendra Broto Rendra atau W. S Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai sastrawan yang mendapat julukan “si Burung Merak” dari sahabatnya. Kabarnya W. S berubah menjadi Wahyu Sulaiman setelah dirinya menjadi seorang muallaf. Rendra sendiri adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya merupakan seorang dramawan tradisional dan guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di sekolah Katolik dikotanya, sedangkan ibunya adalah seorang penari serimpi di keraton Surakarta. Mulanya Rendra memeluk agama Kristen tetapi kemudian menjadi muallaf.
            Pada puisi yang berjudul “Makna Sebuah Titipan” ini Rendra mengangkat tema ketuhanan. Perasaan yang tersaji dalam puisi juga berupa kesedihan karena Rendra menunjukkan bahwa semua yang menjadi miliknya yaitu kebahagiaan merupakan titipan Tuhan yang kapan saja bisa diambil oleh-Nya, meskipun sebenarnya ia menyadari bahwa semua adalah titipan Tuhan pula. Hal ini dapat dilihat pada kutipan yang berbunyi “Mengapa hatiku terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?”.
            Pada puisi kali ini Rendra menggunakan diksi yang sama sekali tidak rumit, Rendra lebih memilih kata-kata yang umum dan mudah dipahami oleh orang awam, namun tidak sampai mengurangi keindahan puisi ini. Majas yang digunakan dalam puisi adalah majas metafora.
            Ada bebarapa amanat yang terkandung dalam puisi ini yaitu yang pertama sebagai manusia kita hendaknya senantiasa mensyukuri nikmat atau pemberian yang Tuhan berikan, yang kedua adalah kita harus menyadari bahwa sesungguhnya segala hal yang kita miliki merupakan titipan dari Tuhan sehingga kita wajib untuk menjaga dengan baik dan sepenuh hati, yang ketiga selalu menjadi manusia yang ikhlas dalam menerima anugerah maupun cobaan, yang keempat yaitu selalu mendekatkan diri kepada Tuhan secara ikhlas. Amanat tersebut tak lepas dari tujuan utama dibuatnya puisi ini yaitu Rendra ingin memiliki tujuan agar pembaca dapat merasakan hal yang sama seperti dirinya serta memiliki kesadaran bahwa segala sesuatu hanyalah sebuah titipan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Montok" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Anak Kebanggaan" karya A. A Navis