Jurnal Membaca : Resensi Kumpulan Cerpen "Perempuan yang Patah Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi" Karya Eka Kurniawan
Judul : Perempuan Patah Hati yang Kembali
Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Karya : Eka Kurniawan
Genre :
Cerpen
Resensi :
Bagi orang-orang yang telah biasa
membaca karya milik Eka ini pastinya sudah tidak heran lagi dengan aksi “nyleneh”
nya saat dia menuliskan kalimat demi kalimat dalam karyanya. Dalam kumpulan
cerpen ini dibuka dengan cerpen yang berjudul Gerimis yang Sederhana dengan
alur penceritaan yang lambat dan memiliki latar belakang sejarah saat orde lama
hendak runtuh (latar belakang ini juga sering diangkat olehnya saat menciptakan
sebuah karya). Menceritakan tentang pertemuan Mei dan Effendy yang ditengahi
oleh pengemis. Pembaca akan diajak berdialog bagaimana “pengemis” menjadi
pembeda besar antara Indonesia dan Amerika.
Pada cerpen kedua terdapat cerpen
yang berjudul Gincu Ini Merah Sayang. Cerpen ini berfokus tentang kisah
sehari-hari mengenai praduga dan kecemburuan antara Rohmat Nurjaman dan Marni
yang diakibatkan oleh gincu. Lalu setelah dua cerpen pembuka barulah cerpen dengan
judul Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi disuguhkan.
Cerpen ini menceritakan Maya, perempuan yang ditinggalkan kekasihnya tepat pada
malam sebelum mereka menikah dan berkat sebuah mimpi berhasil menemukan kembali
cintanya di Pangandaran. Pada cerita pendek ini, unsur kedekatan menjadi hal
utama karena Pangandaran adalah salah satu wilayah di Tasikmalaya yang
merupakan tempat kelahiran sag penulis yang sekaligus menjadi lokasi dalam
cerita Cantik itu Luka. Pengaruh kontruktivisme sosial terhadap Maya
yang malu dan hendak bunuh diri perihal gagal menikah dibangun dengan sangat
apik dan hati-hati oleh Eka.
Kemudian cerpen-cerpen yang berikutnya
berjudul Membuat Senang Seekor Gajah yang cukup banyak mengingat hal
yang ditulis Eka secara tidak waras. Cerpen ini bercerita tentang seekor gajah
yang kepanasan dan berpikir akan menyenangkan jika dirinya masuk ke dalam
lemari pendingin maka dibantu dengan dua anak kecil dia akhirnya dapat masuk ke
dalam lemari itu walau tubuhnya harus terpotong-potong. Kisah ini sebagai
sentilan terhadap keluarga yang memiliki anak namun tidak mempunyai waktu untuk
anaknya yang berada di rumah dan anak itu benar-benar sendirian tanpa adanya
pengawasan dari orang yang lebih dewasa. Sang gajah disini dianggap sebagai sosok
yang asing dan sang anak mengizinkan ia masuk ke dalam rumah tanpa rasa praduga.
Sang gajah adalah cerminan imajinasi anak yang liar termasuk konsekuensinya. Kedua
anak itu diceritakan tidak masalah memotong tubuh gajah karena nantinya
hidupnya akan senang dan itu adalah hal yang lebih penting dari apapun. Makna
senang disini dapat diutarakan sebagai uang dan jelas sentilan cerpen ini
ditujukkan kepada keluarga modern yang melupakan unsur kebersamaan dan uang
merupakan jawaban dari segala hal. Anak dan gajah disini adalah representasi efek
kedewasaan kelak yang penuh dengan dunia liar yang tidak dapat dikontrol.
Dalam karya-karya selanjutnya yang
ada dalam kumpulan cerpen ini, Eka semakin menunjukkan aksi “nyeleneh” nya. Dapat
dilihat dalam cerpen yang berjudul Jangan Kencing di Sini dan Cerita Batu.
Kemudian karya selanjutnya Eka seolah-olah sedang mendongengkan cerita suram
dengan akhir yang tidak bahagia tidak seperti cerpen diawal pembukaan, seperti cerita
yang berjudul Kapten Bebek Hijau atau Setiap Anjing Boleh Berbahagia.
Secara keseluruhan, yang saya
rasakan saat membaca kumpulan cerpen ini adalah Eka sedang bermain dengan duka
dan tragedi manusia yang lumrah ditemukan sehari-hari namun terkadang kerap
kali banyak yang menutup mata. Sebagai cerita penutup, cerpen Pengantar
Tidur Panjang memberikan tamparan keras mengenai permasalahan polemik
ataupun konflik kehidupan yang semuanya bermuara tehadap kematian. Rangkaian cerpen
yang ada dalam kupulan cerpen ini merupakan runtut membahas ironi kehidupan
manusia, sehingga kumpulan cerpen ini sangat menarik dan layak untuk dibaca.
Komentar
Posting Komentar