Jurnal Membaca : Resensi Puisi "Gugur" Karya W. S Rendra
Judul :
Gugur
Karya :
W. S Rendra
Resensi :
Pada puisi yang ditulis Rendra kali
ini adalah berjudul Gugur. Tema yang diangkat pada puisi ini adalah perjuangan,
dimana tentang perjuangan membela kemerdekaan di tanah Ambarawa. Dimana seseorang
berjuang melawan penjajah hingga tumpah darah hanya untuk memperjuangkan tanah Ambarawa.
Karena itu hanya salah satu warisan leluhur yang subur maka dari itu harus
diperjuangkan dan dilestarikan untuk generasi yang akan datang. Ketika membaca
puisi ini begitu haru karena membayangkan seorang pejuang yang sedang dalam
keadaan sekarat tetapi ia benar-benar sangat tangguh meskipun sekujur tubuhnya terdapat
banyak luka, ia juga pantang untuk dibopong menuju kota asalnya yaitu Ambarawa,
dia begitu gigih karena bertekad untuk ke kotanya dengan caranya sendiri tetapi
saat ditengah jalan takdir berkata lain, maut menjerat sebelum dirinya sampai
di kota kesayangannya.
Diksi yang dipakai oleh Rendra ini dapat
dilihat bahwa kata satu dengan yag lainnya saling memiliki keterikatan sehingga
dapat menarik para pembaca untuk membaca dan memahami isi puisi. Puisi Gugur
juga menggunakan beberapa majas seperti majas repetisi, sarkasme, simbolik, dan
fabel. Majas repetisi digunakan pada dua baris pertama pada bait pertama yang
berbunyi Ia merangkak/di atas bumi yang dicintainya. Majas sarkasme
ditujukan pada kalimat Nanti
sekali waktu/seorang cucuku/akan menacapkan bajak/di bumi tempatku
berkubur/kemudian akan ditanamnya benih/dan tumbuh dengan subur. Majas simbolik terdapat pada kalimat Bumi yang menyusui kita/dengan mata airnya/Bumi kita adalah tempat
pautan yang sah/Bumi kita adalah kehormatan/Bumi kita adalah juwa dari jiwa/Ia
adalah bumi nenek moyang/Ia adalah bumi waris yang sekarang/Ia adalah bumi
waris yang akan datang. Dan pada majas fabel terdapat pada kalimat Bagai harimau tua/susah
payah maut menjeratnya/Matanya bagai saga/menatap musuh pergi dari kotanya.
Nilai
moral yang terdapat pada puisi ini adalah terlihat pada bait yang menunjukkan
sebelum si tokoh meninggal ia berkata “yang berasal dari tanah kembali rebah
pada tanah”. Maksudnya adalah kita tidak boleh sombong karena pada hakikatnya semua
manusia sama aja yaitu berasal dari tanah.
Komentar
Posting Komentar