Pecah
Kala itu matahari masih gelap
Ada sedikit gerimis mengisinya
Derap suara hentakan sudah mulai terdengar memenuhi malam kabut
Masih ada nestapa diantara mereka
Hingga suara yang pecah memekikkan telinga itu datang.
Hingga sang fajar menampakkan dirinya tepat diatas kepala riuh lucutan peluru mulai memanas
Perlahan satu-satu dari mereka kembali menghadap sang pencipta
Teriakan semakin riuh kencang berhamburan
Tangisan mulai berderai dengan deras
Rasa dendam tanpa ampun membara.
Entah sampai kapan para tuan-tuan memperbudak inlander yang hanya bisa diam bungkam
Entah sampai kapan pula para inlander bisa memenangkan kompetisi ini pada akhirnya

http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id
http://journal.uny.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Montok" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Anak Kebanggaan" karya A. A Navis