Jurnal Membaca : Resensi Novel "Saman" karya Ayu Utami


Judul Buku           : Saman
Pengarang             : Ayu Utami
Penerbit                : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Dimensi                : 205 halaman
ISBN                     : 978-979-91-0570-7
Sinopsis                 :
Saman adalah salah satu buku karya Ayu Utami tepatnya novel pertama karya Ayu Utami yang diterbitkan oleh Gramedia. Novel ini merupakan dwilogi dimana Saman sebagai buku yang pertama dan Larung sebagai lanjutannya. Novel ini menceritakan seputar gender dan hubungan percintaan pada tokoh-tokohnya.
Awal dari buku ini menggambarkan tentang konflik atau pertikaian yang terjadi pada suatu keadaan di pertambangan minyak bumi antara Rosano yang menjadi kepala pengeboran dan Sihar bawahannya. Sihar membenci Rosano karena sifat keras kepala dan sok tahu akan segalanya akan hal yang berujung dengan kecelakaan kerja dan memakan korban jiwa. Sedangkan tokoh utama dalam novel ini adalah Saman. Saman di sini digambarkan sebagai sosok yang sangat religius, pekerja keras, dan lebih mementingkan kepentingan bersama.
Selain itu novel ini juga membahas tentang hubungan badan antar tokoh-tokohnya. Ada hal yang membuat Laila ingin pergi bersama Sihar ke New York. Karena adat budaya disana berbeda dengan di Indonesia, dimana hubungan badan dalam tanda kutip bebas dilakukan dengan modal saling cinta kedua bela pihak tanpa harus menikah terlebih dahulu. Dipertengahan cerita novel ini akan membahas tentang bagaimana penindasan orang yang lebih tinggi derajatnya dalam ukuran uang dan jabatan terhadap kaum yang dianggap bawahan. Dalam hal ini tokoh Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang tertindas. Saman sendiri orang yang menggerakkan mata masyarakat akan perlunya sebuah keadilan, Saman adalah mantan seorang Pastor yang sekarang berubah karena hawa nafsu manusia yang ada pada dirinya.
Laila sebagai salah satu wanita yang bekerja pada suatu perusahaan tambang, yang mengalami kemelut cinta. Ia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang bernama Sihar, yang ternyata memiliki istri dan anak. Laila sempat berharap bahwa Sihar akan lebih memilih dirinya dibandingkan anak dan istrinya, namun kenyataannya takdir tak berkehendak. Sihar lebih memilih kembali pada istri dan anaknya, pada akhir penceritaan, Laila tidak mendapatkan cintanya.
Kedudukan wanita dan pria sama di mana-mana. Wanita memiliki jabatan yang sama di instansi manapun. Wanita juga berhak mendapatkan cinta dalam hidup dan kehidupannya. Tetapi pada kenyataannya kedudukan wanita semakin tidak dihiraukan, meskipun telah berusaha menjadi sesuatu yang lebih dibandingkan pria. Di sini Laila berusaha mendapatkan itu semua, tetapi semua usaha dan pengorbanannya tidak berhasil. Dan pada kenyataannya kedudukan wanita tetap sama seperti dahulu dan tidak berubah.
Novel karya Ayu Utami ini  kental dengan hubungan seks antar tokohnya dengan menggunakan kata-kata yang mencengangkan bila terdengar di telinga pembaca. Penulis seakan ingin menampilkan hal-hal yang sarat akan hubungan badan antar manusia.
Menurut saya novel ini sangat cocok untuk dibaca karena novel ini membuat pembaca tidak akan lagi menganggap bahwa kedudukan pria dan wanita berbeda, wanita tidak bisa dianggap remeh oleh siapa pun. Hanya saja novel ini disajikan dengan gaya bahasa yang begitu terbuka sehingga tidak disarankan untuk pembaca yang masih dibawah umur. Novel ini juga memberi hikmah bahwa sejatinya kedudukan wanuta dan pria sama saja derajatnya tidak ada yang lebih tinggi.   


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Montok" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Anak Kebanggaan" karya A. A Navis