Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Tamu yang Datang di Hari Lebaran" karya A.A Navis
Judul : Tamu yang Datang di Hari Lebaran
Pengarang : A.A. Navis
Sinopsis :
Cerpen ini ditulis pada 21 Januari 1998 oleh A.A Navis.
Bercerita tentang sapasang orang tua yang tengah duduk di ruang tamu bersama
kursi goyangnya sambil melihat jalanan yang ramai oleh orang yang mengenakan
baju baru dan indah. Rumah kedua orang tua itu terbuat dari bangunan kayu model
lama yang berkolong tinggi. Setiap orang tahu siapa penghuninya, yaitu Inyik
Datuk Bijo Rajo dan Encik Jurai Ameh. Inyik dulunya seorang yang pernah menjadi
gubernur. Mereka dikaruniai enam orang anak. Semua telah menjadi orang
terpandang di rantau. Dihari tuanya mereka berdua tinggal bersama pembantunya
yang telah puluhan tahun bersamanya yaitu Paman Dali. Dalam cerpen ini
diceritakan bahwa enam anak Inyik dan Encik tak pulang untuk merayakan lebaran
padahal mereka semua mampu untuk pulang. Ruski tak pulang karena rezekinya pas
pasan dan tinggal jauh di Irian. Sabir juga tidak pulang karena harus
berlebaran di rumah mentrinya. Melani tidak mendapat tiket pesawat. Sofi
suaminya belum kembali dari Eropa. Sedangkan Gafar lain lagi ceritanya. Si Mael
yang paling kaya dianatar semuanya justru memilih berlebaran di Mekah karena
sudah bosan keliling dunia baik Amerika maupun Eropa, 'Sambil libur, sambil
mencari ridha-Nya' katanya.
Lalu melalui Inyik A.A navis melontarkan kritik pedas
'Seperti menemui ibu bapak tidak merupakan ridhaNya'. Padahal kedua orang tua
ini mengalami kerinduan yang mendalam terhadap anak cucunya. Kehadiran mereka
saat lebaran menjadi kebahagiaan luar biasa, dan begitu pula sebaliknya,
ketidakhadiran anak dihari lebaran membuat orang tua tidak hanya bersedih
tetapi juga mencari dan menduga-duga kesalahan diri dalam mendidik anak selama
ini.
Dari sudut pandang ini bisa ditarik garis lurus dengan adanya
budaya mudik lebaran mengingat bebas psikologis para orangtua dalam hidupnya
hingga ajal menjemput ketika hari lebaran adalah kehadiran anak dan cucunya.
Saat ini lebaran juga menjadi ajang sebuah perayaan yang cenderung hura-hura.
Lebaran tak lagi menjadi momen untuk mengumandangkan takbir di masjid, mushala,
atau rumah. Kini takbiran menggema di jalan lewat pengeras suara besar, lewat
takbir keliling yang ditonton oleh orang sambil menyalakan kembang api. Lebaran
juga bermetamorfosa nenjadi ajang untuk menghamburkan uang. Belanja baju baru,
petasan, kembang api. Tak heran jika inflasi tinggi saat lebaran. Aneh lagi
para pejabat menggelar "Open House" mulai dari presiden hingga kepala
desa. Mereka membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan menganggap dirinya orang
paling baik dan suci. Logikanya orang yang memiliki kesalahan yang akan menemui
orang yang akan dimintai maaf, dengan logika itu rakyat yang selama ini
memiliki banyak kesalahan kepada pejabat.
Jika dicermati cerpen ini digunakan oleh A.A Navis untuk
menyoroti tiga persoalan besar uang berpusar didalam perayaan lebaran. Di
cerpen ini ia menyajikan persoalan yang kaitannya dengan hubungan anatara orang
tua-anak, pemimpin-rakyat, manusia-tuhan. Cerpen ini ditulis olehnya di
Kayutanam pada 21 Januari 1998. Kira" beliau berumur 73 tahun. Dicerpen
ini disebutkan bahwa Inyik berusia 70 tahun. Meski aku tokoh dengan aku
pengarang berbeda setidaknya ada pengaruh yang diberikan dari latar belakang
pengarang. Menurut saya cerpen ini memberi pesan yang begitu mendalam karena
melibatkan empat elemen yaitu orang tua, anak, pejabat, dan Tuhan. Cerpen ini sangat
cocok untuk dibaca. Pesan dari cerpen ini adalah kita harus selalu ingat pada
orang tua dan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar