Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Dari Masa ke Masa" Karya A. A Navis
Judul : Dari Masa ke Masa
Pengarang : A.A. Navis
Sinopsis :
Cerpen yang berjudul Dari Masa Ke
Masa merupakan salah satu karya A.A Navis. Cerita berawal dari deskripsi tokoh
“saya” yang sangat kesal/ dongkol jika harus meminta nasihat dan restu kepada
para orang tua sebelum melakukan suatu hal. Ia merasa tidak adil, mengapa orang
yang tidak pergi ke medan perang harus meminta nasihat dulu sebelum melakukan
suatu hal sedangkan yang ke medan perang tidak perlu melakukan itu. Ia juga
dongkol karena tidak jarang para orang tua itu bersikap semaunya kepada yang
muda. Tetapi apa daya, pada saat itu meminta nasihat merupakan suatu aturan
yang memang harus dilakukan jika ingin hal yang akan dilaksanakan berjalan
lancar.
Kemudian tokoh “aku” menyimpulkan
bahwa orang tua berlaku demikian karena orang-orang tua itu khawatir akan
posisinya. Maksudnya, orang-orang tua itu merasa cemas jika dirinya tidak
diikutsertakan dalam suatu proses yang merubah keadaan menuju suatu
kemajuan/keberhasilan. Keberhasilan bahkan menjadi hal yang diinginkan
sekaligus hal yang kurang menyenangkan bagi para pemuda di zaman itu karena
seringkali para orang tua menempatkan dirinya sebagai sang pendidik yang
menyebabkan keberhasilan itu terjadi. Bahkan tidak jarang keberhasilan itu
menimbulkan perpecahan dalam organisasi tersebut karena lagi-lagi ada campur
tangan orang tua yang memaksakan kehendak pribadinya. Melihat hal tersebut,
tokoh “aku” amatlah miris dan berjanji untuk tidak melakukan hal macam orang
tua lakukan saat tiba waktunya ia yang memberi nasihat.
Tibalah saatnya ia yang didatangi pemuda untuk
diminta pendapatnya. Ia melakukan sesuai janjinya untuk tidak mengulangi
perbuatan orang-orang tua dulu. Namun, ternyata orang-orang muda zaman sekarang
berbeda dengan zaman dulu (konteks sekarang mengacu pada tahun dibuatnya cerpen
yaitu tahun 1950-an). Anak muda zaman sekarang lebih mudah diatur dan lebih
berwawasan karena bisa sekolah tinggi-tinggi. Tidak ada lagi yang memberi
nasihat seperti halnya tokoh “saya” sewaktu muda dulu. Perbedaan pencapaian
orang muda pada zaman dulu dan sekarang pun terlihat. Dan tokoh “saya”
menyatakan itu bukti bahwa indonesia tidak maju. Akhir cerita dikisahkan tokoh
“saya” sedang berbincang dengan sobat seperjuangannya dulu. Mereka membicarakan
tentang orang-orang muda zaman sekarang yang ternyata tidak seperti harapan mereka
dulu dan tokoh “saya” menyimpulkan bahwa hal yang harus dilakukan sekarang
adalah membenahi akibat kerja orang muda zaman dulu.
Menurut saya, hal yang menarik untuk dibahas
mengenai cerpen ini adalah bagaimana pengaruh suatu nasihat pada seseorang atau
golongan. Jika nasihat diberikan atas dasar kepentingan pribadi, itu bukan lagi
nasihat namanya. Nasihat yang sesungguhnya adalah petuah yang tulus dari hati
dan benar-benar membangun, bukan malah menjatuhkan secara tidak langsung. Dan
juga mengenai respon tokoh “saya” yang tidak mau mengulangi kesalahan
orang-orang tua zaman dulu, ia tidak mau memberi nasihat kepada orang-orang
muda. Ia lebih memilih diam dan menikmati “betapa segannya orang dengannya”.
Setelah berbincang dengan sobatnya, tokoh “saya” merasa apa yang dia lakukan
selama ini juga salah. Yang seharusnya dilakukan adalah membenahi akibat dari
pekerjaan terdahulu.
Cerpen karya A.A Navis ini sangat cocok dibaca
oleh semua kalangan baik yang tua maupun yang muda, karena di dalam menyinggung
mengenai hubungan sosial antara orang-orang tua dengan orang-orang muda. A.A
Navis tentunya ingin memberikan gambaran yang tepat mengenai hal tersebut agar
para pembacanya dapat memetik pelajaran dan memperbaiki keadaan menjadi lebih
baik.
Komentar
Posting Komentar