Jurnal Membaca : Resensi Kumpulan Puisi "Aku Binatang Jalang" Karya Chairil Anwar

Judul               : Aku Ini Binatang Jalang
Penulis            : Chairil Anwar
Cetakan           : VI Oktober 1993
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
ISBN               : 978-979-22-277-2
Tebal               : 111 halaman (82 puisi + surat surat)
Resensi            :

Dalam kumpulan puisi Chairil Anwar, sebagian puisinya berkisah tentang pengalaman pribadinya, percintaan dengan kekasihnya, dan perenungan-perenungan eksistensialnya tentang kehidupan, ibu, pemberontakan, individualisme,  dan terlebih lagi tentang kematian. Diantara kumpulan puisinya terdapat puisi yang berjudul "Tak Sepadan", "Penerimaan", "Sajak Putih", "Rumahku", "Lagu Siul", "Malam di Pegunungan", "Derai-Derai Cemara" dan masih banyak lagi lainnya.
Chairil Anwar tidak seperti Rendra maupun Taufiq yang puisinya banyak menyampaikan kritik sosial dan mengkritisi rezim penguasa. Chairil Anwar lebih sering berkisah tentang keping-keping pengalaman hidup pribadi yang dihayatinya. Selain itu, hampir semua puisi karya Chairil Anwar juga merujuk pada kematian.
Contoh Puisi Chairil Anwar yang merupakan puisi tentang kisah percintaan dia dengan kekasihnya yaitu puisi “Senja di Pelabuhan kecil”, Chairil biasanya orang yang tegar dan selalu optimis dalam segala hal tetapi puisi ini dia merasa pesimis karena cintanya sudah kandas. Sehingga puisi ini seakan-akan menjadi melankonis karena sajaknya berisi tentang ratapan dan kesedihan Chairil Anwar dalam memikirkan nasib yang benar-benar tidak bisa dirubah. Tetapi emosi Chairil yang menguasai puisi ini, menyebabkan sajaknya tidak terlalu terlihat sedih.
Hal ini berbeda dengan puisi Chairil yang menunjukkan ketegaran dan kekuatan Chairil. Seperti yang tergambar dalam puisinya yang berjudul “ Aku”. Penyair menulis puisi ini karena penyair ingin menunjukkan keindividualan. Chairil membawa semangat lewat puisi tersebut karena pada saat itu orang Indonsia belum ada yang meng-akukan dirinya. Pada salah satu bait dalam puisi tersebut terdapat kesadaran penyair peran dalam hidupnyayang mengharuskan adanya tindakan agar tidak terpengaruh oleh orang lain. Chairil berpikiran bahwa pengaruh orang lain dapat membuat dirinya kehilangan kemerdekaannya. Selain puisi-puisi diatas, dalam buku kumpulan puisi Chairil Anwar juga terdapat puisi-puisi yang mempunyai kisah tentang ibu, kematian, kehidupan pribadi, dan sebagainya.
Menurut saya puisi yang paling membuat saya terkesan adalah puisi yang berjudul "Sajak Putih" yang bercerita tentang sepasang dua insan yang ternyata saling menyukai. Penggunaan majasnya juga sangat dalam. Sehingga buku ini sangat cocok untuk dibaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Si Montok" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A Navis

Jurnal Membaca : Resensi Cerpen "Anak Kebanggaan" karya A. A Navis