Jurnal Membaca : Resensi Novel "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono
Judul
Buku : Hujan Bulan Juni
Jenis
Buku : Novel/Fiksi
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun
Terbit : Juni 2015
ISBN : 978-602-03-1843-1
Sinopsis :
Novel ini berpusat pada hubungan pria Jawa dan gadis campuran
Jawa-Manado. Pria Jawa itu bernama Sarwono, dosen muda dan peneliti yang
memiliki kulit sawo matang, sederhana, dan berupaya menutupi kondisi tubuhnya
yang ringkih. Sedangkan gadis cantik berkulit bening dengan wajah memesona itu
adalah Pingkan. Ia juga dosen muda dari fakultas berbeda. Sarwono sejak dulu
mengincar adik Toar, sahabatnya, yang sama-sama dibesarkan di Surakarta.
Pada bab awal novel ini digambarkan situasi yang serupa
dengan bait-bait dalam puisi tersebut. Sarwono yang merupakan dosen di
Universitas Indonesia dan sedang beristirahat untuk memulihkan kesehatannya di
Surakarta, terpaksa menuju Yogyakarta. Tenggat waktu penelitiannya bersama
peneliti UGM telah dekat.
Pada saat itu ia memerhatikan bulan Juni tak biasanya. Juni
yang dikenalnya kering kerontang, puncak kemarau. Panas terik di siang hari dan
dingin pada malam hari. Gerimis kemudian berubah menjadi hujan deras. Pada
saat-saat ini ia melamunkan seseorang. Pingkan yang telah beberapa bulan ini
pergi ke Jepang. Ia merasa rindu ini menyiksanya. Perasaan rindu yang
meluap-luap inilah yang kemudian menginspirasinya menulis puisi yang kemudian
dimuat di koran.
Cerita kemudian beralih ke kilas balik secara tidak runtut.
Bagaimana Sarwono merasa tidak kuasa mencegah Pingkan pergi, bagaimana ia
merasa cemas tak beralasan bahwa Pingkan akan meninggalkannya, dan bagaimana
hubungan mereka sebenarnya. Beberapa bagian cerita ditampilkan dalam sudut
pandang Pingkan.
Perbedaan kultur dan karakter keduanya diketengahkan di novel
ini. Sarwono digambarkan sebagai jawa jadul dari segi penampilan dan
pemikirannya, sementara Pingkan wanita yang bebas dan modern. Ia merasa tak
punya akar, karena ia tidak merasa sebagai Jawa, dan hanya tahu sedikit kultur
Manado dari ayahnya. Cerita keduanya ini dikulik dengan beragam bumbu lainnya
agar lebih dramatis.
Secara keseluruhan buku ini lebih menunjukkan keindahan dalam
mengolah kata dan kalimat. Alurnya juga mudah ditebak. Menurut saya buku ini
sangat cocok untuk dibaca karena menyajikan cerita roman yang kental walau
alurnya mudah ditebak.
Komentar
Posting Komentar